Familiarkah Anda dengan istilah analisis Cost Volume Profit? Konsep ini merupakan model yang sangat krusial jika Anda akrab dengan segala hal yang berkaitan dengan merencanakan dan mengambil keputusan bisnis. Tujuannya apa? Tentu saja untuk menentukan berapa unit produk atau jasa yang harus dijual demi mengantongi laba sesuai target.

Dalam analisis ini terdapat 3 variabel utama, yaitu cost, volume, dan profit. Dengan melibatkan ketiga elemen ini, maka Anda bisa menjawab banyak sekali isu penting terutama ketika  ada perubahan dalam situasi bisnis. Contohnya, ketika harga jual produk atau jasa dinaikkan, maka apa dampaknya terhadap profit? Lalu, bagaimana jika biaya tetap total juga dikurangi, adakah dampaknya terhadap profit?

Margin Kontribusi dan Analisis Cost Volume Profit

Di bagian ini, kita akan membahas metode untuk menganalisis Cost Volume Profit. Pertama-tama, perhatikan berapa nilai margin kontribusi anda. Angka ini tentunya berbeda dengan tingkat penjualan perusahaan dan biaya variabel yang mengiringinya. Menghitung margin kontribusi akan memetakan biaya tetap dan biaya variabel, dengan formula:

Pemasukan Operasional =

Penjualan – Total Biaya Variabel – Total Biaya Tetap

Lebih detilnya, formula di atas sama dengan:

Pemasukan Operasional =

(Harga x Unit Terjual) – (Biaya Variabel per Unit x Unit Terjual) – Total Biaya Tetap

Margin Kotor & Margin Kontribusi

Hal yang tak kalah penting untuk Anda ketahui adalah memahami bahwa margin kotor adalah hal yang berbeda dengan margin kontribusi. Margin kotor adalah total selisih biaya produksi dan produk terjual. Sementara margin kontribusi juga memperhitungkan biaya variabel untuk melihat seluruh elemennya secara lebih detil. Kedua margin ini sangat krusial bagi bisnis Anda sebagai landasan untuk mengambil keputusan-keputusan penting.

Pada dasarnya, menentukan rasio margin kontribusi adalah hal yang sederhana, yaitu dengan melihat margin kontribusi pada seluruh total penjualan Anda. Dalam formula ini, elemen yang digunakan adalah margin kontribusi secara keseluruhan, bukan per unit.

Cara ini memungkinkan Anda untuk mengetahui potensi tersembunyi dari bisnis yang sedang dijalankan. Misalnya, jika margin kontribusi bisnis Anda adalah Rp4.000.000 dan total penjualan adalah Rp10.000.000, maka rasio margin kontribusinya adalah 40 persen. Jika dibedah lebih dalam lagi, artinya setiap ada kenaikan satu rupiah dalam penjualan, maka ada kenaikan yang sama di bagian margin kontribusi.

Kalkulasi Titik Impas (Breakeven Point)

Dalam tahapan menganalisis Cost Volume Profit, salah satu hal yang tidak boleh ketinggalan adalah memperhitungkan titik impas atau breakeven point dalam perusahaan Anda. Titik impas adalah target berapa unit produk atau jasa yang harus terjual agar mencapai nilai impas atau bahkan surplus (mendapat keuntungan).

Artinya, titik impas ini bisa tercapai ketika total pendapatan seimbang dengan total pengeluaran. Jika pendapatannya positif, artinya bisnis Anda berhasil mendatangkan profit. Sebaliknya jika pendapatannya negatif, artinya titik impas belum berhasil tercapai dan perlu dicari cara untuk meningkatkan profit.

Sebenarnya, mengkalkulasikan titik impas menggunakan variabel yang sama seperti yang digunakan dalam analisis Cost Volume Profit sebelumnya. Persepsi yang akan Anda peroleh pun sama: berapa produk atau jasa yang harus terjual hingga akhirnya mencapai titik impas atau breakeven point. Analisis Cost Volume Profit juga akan menunjukkan bagaimana pendapatan, pengeluaran, dan bahkan profit akan terkena dampaknya ketika tingkat penjualan mengalami perubahan.

Penting untuk Perubahan dalam Bisnis

Bisnis adalah aktivitas yang tidak pernah stabil. Hanya satu hal yang pasti terjadi dalam bisnis, yaitu: perubahan. Entah itu perubahan dalam hal harga jual, biaya variabel tertentu, tarif pajak, dan masih banyak lagi faktor yang bisa berubah dalam bisnis.

Kemudian, apa hasil yang bisa didapat dari analisis Cost Volume Profit di atas? Berikut beberapa penerapan analisis Cost Volume Profit dalam proses pengambilan keputusan bisnis:

  • Menentukan unit yang harus terjual agar mencapai titik impas
  • Menentukan unit yang harus dijual agar mencapai target yang diinginkan (bisa lebih dari titik impas)
  • Menghindari kerugian ketika pemasukan negatif atau masih jauh dari titik impas
  • Menentukan strategi apa yang akan diambil untuk memaksimalkan profit
  • Menganalisis margin yang aman
  • Menganalisis risiko ketidakpastian biaya, harga jual, dan permintaan pasar

Selain fungsi di atas, model Cost Volume Profit juga memiliki beberapa mekanisme, di antaranya:

  • Fungsi Cost Volume Profit bersifat linear antara pendapatan dan total pengeluaran
  • Semua produk atau jasa terjual
  • Harga jual, biaya variabel, dan biaya tetap tertera akurat
  • Tidak ada perubahan komposisi sales-mix untuk produk lebih dari satu
  • Biaya dan harga jual telah diketahui
  • Nilai harga jual bersifat pasti

Kepastian dalam Bisnis, Mungkinkah?

Dari mekanisme di atas terlihat bahwa salah satu sifat yang erat kaitannya dengan analisis Cost Volume Profit adalah certainty atau kepastian. Namun lagi-lagi, tidak ada yang pasti dalam bisnis kecuali perubahan atau fluktuasi. Risiko sangat rentan terjadi terutama di lingkungan bisnis yang dinamis. Dengan demikian, Anda dituntut untuk bisa mengambil keputusan dengan cepat dan cermat.

Oleh karenanya, perlu ada konsep manajemen risiko. Biasanya, risiko ini dikelola dengan tiga pendekatan, yaitu identifikasi risiko, penilaian risiko, hingga mitigasi risiko. Margin of safety dan operating leverage adalah dua hal yang ada dalam akuntansi manajemen dan dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisis risiko dengan baik.

Apa itu margin of safety? Kondisi ketika target unit yang terjual hingga mencapai di atas titik impas atau breakeven point. Sementara operating leverage adalah penggunaan biaya tetap untuk meningkatkan profit. Angka operating leverage bisa diperoleh dari total margin kontribusi dibagi dengan profit.

Dalam kaitannya dengan situasi fluktuatif ini, tentu yang terjadi berbeda antara satu perusahaan dengan lainnya. Ada perusahaan dengan risiko minimal, ada juga yang risikonya tinggi. Sebagai contoh, ketika sebuah bisnis beroperasi dengan banyak menggunakan fixed costs ketimbang variable costs, maka margin kontribusi akan meningkat sementara profitnya menurun. Artinya, risikonya semakin besar.

Itulah sebabnya menentukan degree of operating leverage bisa menjadi kunci bagi pebisnis untuk menentukan langkah apa yang layak diambil untuk mengantisipasi risiko. Analisisnya adalah “what-if” terhadap berbagai kemungkinan perubahan dalam bisnis.

Dengan melibatkan analisis Cost Volume Profit, maka Anda bisa mengembangkan beberapa pilihan skenario strategis yang mungkin diambil. Contohnya ketika ada perubahan biaya tetap atau variabel atau ketika harga jual juga berubah. Tentu saja ketika hal ini terjadi, prioritasnya adalah mengambil keputusan yang memberikan profit tertinggi bagi keberlangsungan bisnis Anda.

Comments to: Analisis Cost Volume Profit: Bagaimana Memahaminya?

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

Tulisan Menarik

Bacaan Terbaru

Panduan Disarankan

Join our Newsletter

Get our monthly recap with the latest news, articles and resources.

By subscribing you agree to our Privacy Policy.

Latest Titles

Categories

Login

Welcome to Typer

Brief and amiable onboarding is the first thing a new user sees in the theme.
Join Typer
Registration is closed.